01 – Book at Cafe : Awal Yang Tidak Terduga

Semua cerita terbentuknya Book at Cafe diawali dari pertemuan tiga sekawan yaitu Kelvinsius Julio, Mario Wicaksono, dan Danis Kirana. Kami bertiga adalah teman ngobrol, rekanan, dan teman bermain yang saling kenal sejak tahun 2018 jika tidak 2019. Saya mengenal mbak Danis lebih awal dari sebuah workshop digital marketing di Kota Batu dari Google Gapura Digital, dimana mbak Danis menjadi pematerinya dan saya menjadi pesertanya. Saya mengenal mas Mario dari sebuah kelompok bermain boardgame dari Letsplay Indonesia. Setelah itu baru saya sadari bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri.

Sejauh ingatan saya, pembahasan pertama kami tentang buku ada pada tahun 2020 di EJSC Co-Working Space. Entah bagaimana ceritanya, kami membahas tentang buku The 4 Discipline of Execution dari Chris McChesney, Jim Huling, dan Sean Covey. Tidak hanya kami bertiga, ada beberapa orang lainnya juga. Seingat saya juga, sesi tersebut juga yang memberikan saya percikan ide untuk membuat kelompok baca. Sempat saya sampaikan pada teman saya lainnya, namun hanya sekedar ide liar belaka.

Pasca covid, kami bertiga cukup jarang bertemu, kira-kira hanya setahun sekali atau dua kali sekedar bertemu di suatu tempat secara tidak sengaja, atau sekedar saat berbagi ucapan dan kado Natal. Namun mas Mario dan saya beberapa kali terlibat obrolan tentang buku secara online, bahkan beberapa kali bertukar buku dan insight menarik dari buku tersebut. Kami bertiga sama-sama berprofesi sebagai wirausaha, oleh karena itu buku yang kami baca kebanyakan tentang bisnis.

Singkat cerita, pada 14 Mei 2025, mas Mario mengajak saya untuk meetup pada 15 Mei 2025. Tanpa ada pertanyaan akan membahas apa, saya meng-iyakan. Memang mas Mario selalu mengajak untuk meetup apabila sedang berada di Kota Batu dan sedang luang sendirian. Jadi ajakan ini adalah hal yang biasa. Kami biasa membahas tentang update bisnis masing-masing, sambil membagikan informasi, peluang, dan banyak hal lainnya.

Akhirnya kami bertemu pada 15 Mei 2025. Jika biasanya kami berdua, kali ini ada yang berbeda yaitu mbak Danis ikut datang untuk ngobrol bersama. Kami ngobrol seperti biasa, sampai terbukalah obrolan tentang buku. Saya sampaikan bahwa selama satu tahun terakhir, saya mencoba untuk mengambil libur di hari Senin dan menggunakannya untuk belajar saja, belajar tentang apapun yang saya ingin pelajari, kebanyakan dengan membaca buku. Tidak diduga, langkah ini menarik perhatian mereka.

Setelah diskusi panjang lebar tentang langkah tersebut, tersampaikanlah ide saya dahulu bahwa saya ingin membuka kelompok membaca. Kita membaca buku lalu saling berdiskusi tentang isi bukunya, seperti yang biasa kita lakukan. Ide itu disambut positif!

Beruntungnya kita sempat berfoto bersama, dan bahkan mbak Danis membuat sebuah story di akun Instagramnya. “OTW bikin yang Seru!”, katanya. Tanpa babibu, kita eksekusi semuanya secepatnya. Pada 15 Mei 2025, diskusi tentang komunitas buku diawali, kami berencana mulai pada Senin, 26 Mei 2025 untuk soft launching.

Sebelum soft launching, saya coba lakukan eksperimen pertama pada tanggal 19 Mei 2025, hari Senin pukul 15.00 WIB. Saat itu saya masih sendirian, seperti kebiasaan saya tiap hari Senin. Kebetulan saya sangat suka suasana di Cafe Omah Koempoel Batu untuk membaca buku, entah kenapa, disini saya bisa membaca dengan sangat fokus. Tapi hari ini agak berbeda dari biasanya, karena saya beranikan diri untuk membawa beberapa buku kesana. Biasanya saya hanya membawa 1 buku, lalu membacanya dari sore sampai malam.

Saat itu saya merasa seperti manusia yang ingin terlihat sok pintar, yang datang ke kafe dengan membawa segepok — mungkin 5 atau 6 — buku. Cukup nervous, tapi ya sudahlah, barangkali ada orang yang iseng bertanya dan saya ajak membaca bersama. Tapi tidak ada haha. Mungkin orang-orang berpikir saya sedang menjual buku, atau sedang menyelesaikan studi S3 dan stress di rumah sehingga harus mengerjakannya di cafe. Entahlah. Tapi tidak apa, setidaknya saya berhasil melewati percobaan pertama.

Sepulangnya, saya berdiskusi dengan mas Mario via WhatsApp, tentang apa yang perlu disiapkan minggu depan. Saya terpikirkan sebuah nama yaitu Book at Cafe. Jujur, saya sangat terinspirasi dengan brand Coffee Meets Stock yang dibuat oleh Theo Derick saat memilih nama ini. Book at Cafe, disingkat BAC, bisa bermakna singkatan dari aktifitas dasar yang dilakukan, yaitu Baca bukunya, Ambil ilmunya, Ceritakan insightnya. Niat paling dasar dari inisiatif ini sekedar membiasakan atau melumrahkan aktifitas membaca buku di tempat umum, dan juga saling berdiskusi tentang temuan-temuan dari buku tersebut dengan berbagai sudut pandang yang berbeda.

Singkat cerita, soft launch Book at Cafe tanggal 26 Mei 2025 terlaksana oleh kami bertiga di Cafe Omah Koempoel Kota Batu. Membaca buku bersama, mencatat temuan menarik, diskusi tentang insight dan studi kasus. Berjalan lancar, damai, dan kami bertiga bahagia karena ini akhirnya terlaksana. Kalau penasaran, bisa cek video singkat tentang soft launching di link ini yang diambil dari story Instagram mbak Danis @daniskirana. Tidak bisa disebut sebagai video dokumentasi, karena kami benar-benar tidak menyiapkan untuk itu hahaha tapi kami terus belajar dari waktu ke waktu.

Untuk teman-teman yang tertarik, bisa subscribe ke cerita ini dengan memasukkan email di sidebar sebelah kanan (untuk desktop/tablet) atau di bagian paling bawah (untuk mobile) agar selalu mendapatkan update berkala tentang cerita barunya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!


*Cerita ini merupakan bagian dari kumpulan cerita dalam rubrik Behind The Scene Story : Book at Cafe. Untuk mengakses arsip cerita sebelumnya atau setelahnya, dapat mengunjungi link berikut ini.

Tentang Penulis
Picture of Kelvinsius Julio
Kelvinsius Julio
Pelajar generalis. Tertarik dengan dunia bisnis, pendidikan, dan digital. Menyukai buku-buku tentang bisnis, self-improvement, dan keuangan.

CEK CERITA LAINNYA

SHARE TULISAN INI

Scroll to Top