02 – Buku Non-Fiksi dan Keselarasan

Hai! Kita bertemu lagi di rubrik Book at Cafe Behind The Scene Story! Hari ini saya akan bercerita tentang pertemuan kedua Book at Cafe (2 Juni 2025) yang masih berlangsung di Omah Koempoel, Batu. Hari ini cukup berbeda dengan pertemuan pertama, karena kami tidak lagi bertiga, namun berempat.

Orang pertama yang hadir secara official pada pertemuan Book at Cafe bernama Risna. Saya mengenalnya sejak lama, karena kami satu jurusan dan satu angkatan saat kuliah. Perbedaannya adalah Risna tetap berada di jalur yang benar yaitu di industri kimia terutama aromaterapi dan esensial oil, sesuai jurusan kami yaitu Teknik Kimia, sedangkan saya menjadi orang yang tersesat dan mengambil jalur yang berbeda sebagai wirausahawan 😀

Singkat cerita, di pertemuan pertama ini, Risna cukup bingung ingin membaca buku apa. Ia tidak ingin membaca buku yang terlalu berat, maka buku Animal Farm dari George Orwell yang kebetulan ada di Booklist saya menjadi salah satu pilihannya. “Ada animal-animalnya, mungkin bukunya ringan,” begitulah kira-kira yang disampaikannya saat memilih buku ini, saya hanya tertawa dan memberikan bukunya. Saya membaca buku 48 Laws of Power dari Robert Greene. Mas Mario membaca buku Rework dari Jason Fried. Mbak Danis membaca buku The Almanack of Naval Ravikant dari Eric Jorgenson. Hal yang unik adalah Risna baru menyadari bahwa ternyata buku Animal Farm adalah buku fiksi yang bercerita tentang sebuah perpolitikan dan kemunafikan kelompok babi yang sebenarnya adalah cerita perumpamaan kritikan atas apa yang terjadi pada revolusi Rusia saat itu.

Saat sesi diskusi, karena kami bertiga membaca buku non-fiksi dan Risna membaca buku fiksi sendirian, ia merasa cukup sulit untuk menghubungkan isi dari buku fiksi yang dibacanya dengan apa yang dibaca orang-orang lain. Apalagi saat itu dia belum mengenal orang-orang lainnya. Pertemuan tersebut menjadi latar belakang pemikiran untuk memfokuskan diri ke non-fiksi. Kami berpikir bahwa sepertinya kami butuh mengkhususkan komunitas ini di buku-buku non-fiksi terlebih dahulu saja untuk saat ini. Bukan karena kami punya stigma khusus dengan buku-buku fiksi, namun pertama karena koleksi buku Book at Cafe terdiri dari mayoritas buku-buku non-fiksi. Kedua untuk menyelaraskan topik bahasan saat sesi diskusi Ketiga untuk membagi audience dengan komunitas lain saja.

Sudah ada banyak sekali komunitas buku fiksi di Kota Malang dan harusnya ruang itu tersedia luas untuk para peminatnya. Sedangkan komunitas yang secara gamblang mengkhususkan untuk non-fiksi hampir tidak ada, sejauh pandangan kami saat itu. Oleh karena itu, pada pertemuan-pertemuan berikutnya kami memfokuskan pada buku-buku non-fiksi saja, bahkan meletakkannya di bio sosial media kami. Sebagai pembeda, dan sebagai ruang khusus untuk orang-orang yang belum menemukan wadahnya. Barangkali di masa depan Book at Cafe akan melebarkan sayap ke buku fiksi juga? Tidak ada yang tahu hahaha.

Jadi jika sekarang ada yang bertanya kenapa Book at Cafe hanya memfokuskan diri pada buku non-fiksi, mungkin inilah yang bisa kami jelaskan. Tanpa mengurangi minat kami pada buku-buku fiksi.

Belakangan ini, langkah mengkhususkan diri ini justru mendapat banyak sambutan positif dari mayoritas peserta Book at Cafe. Mereka menjelaskan bahwa komunitas ini menjadi unik karena itu. Ada juga yang menjelaskan bahwa dengan adanya Book at Cafe, mereka jadi mendapat wadah untuk “mengerjakan PR” mereka untuk belajar.

Meskipun demikian, ada juga sisi ekstrim yang menyatakan bahwa Book at Cafe seakan-akan menganggap membaca buku non-fiksi lebih penting sedangkan membaca buku fiksi tidak begitu penting. Namun kami tidak pernah menempatkan buku fiksi pada posisi tersebut sedikitpun. Bahkan banyak dari member kami yang akhirnya punya ruang selaras untuk membaca buku fiksi di tempat lain, dan membaca buku non-fiksi di Book at Cafe. Mereka merasa semuanya seimbang dan memang seharusnya tidak dicampur aduk meskipun punya bobot yang sama. Namun semua orang tetap berhak berpendapat untuk apapun.

Untuk teman-teman yang tertarik dengan cerita-cerita selanjutnya, bisa subscribe ke cerita ini dengan memasukkan email di sidebar sebelah kanan (untuk desktop/tablet) atau di bagian paling bawah (untuk mobile) agar selalu mendapatkan update berkala tentang cerita barunya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!


*Cerita ini merupakan bagian dari kumpulan cerita dalam rubrik Behind The Scene Story : Book at Cafe. Untuk mengakses arsip cerita sebelumnya atau setelahnya, dapat mengunjungi link berikut ini.

Tentang Penulis
Picture of Kelvinsius Julio
Kelvinsius Julio
Pelajar generalis. Tertarik dengan dunia bisnis, pendidikan, dan digital. Menyukai buku-buku tentang bisnis, self-improvement, dan keuangan.

CEK CERITA LAINNYA

SHARE TULISAN INI

Scroll to Top