Hai! Kita bertemu lagi di rubrik Book at Cafe Behind The Scene Story! Kali ini saya tidak sedang bercerita tentang apa yang terjadi pada Regular Meetup Book at Cafe, namun tentang apa yang kita lakukan setelah Regular Meetup. Tepatnya setelah Regular Meetup ke-5 di tanggal 23 Juni 2025. Kami memikirkan bahwa sepertinya menarik jika ada satu grup/channel WhatsApp untuk mengumpulkan kita semua, dan kita bisa berdiskusi tentang buku disana setelahnya. Ya, kita tidak punya pikiran untuk membuat grup selama 5 pertemuan ini! Harap maklum karena kami suka melakukan uji coba dan selalu belajar dari pengalaman 😀
Grup & Channel WhatsApp
Pada awalnya, kami mencoba membuat grup WhatsApp biasa, dimana kita bisa berkumpul dan berdiskusi setelah melakukan meetup. Jumlah pesertanya hanya sekitar 7 orang pada saat itu, kami tetap mencoba membuatnya. Pada saat itu, tidak ada yang dibahas! Grup kosong selama beberapa waktu, hanya digunakan untuk share jadwal Regular Meetup selanjutnya dan list buku yang dibawa di meetup tersebut. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin karena memang tidak ada yang perlu dibahas, karena kita sudah membahasnya saat Regular Meetup hahaha.
Sampai pada 30 Juni 2025, saya coba untuk mengutak atik WhatsApp dan baru menemukan tentang WhatsApp Channels. Sebuah fitur WhatsApp yang sepertinya sudah lama ada, yang letaknya ada dibawah panel Status itu. Saya mencoba mengulik tentang fitur ini dan akhirnya berencana untuk membuat channel untuk Book at Cafe. Harapannya channel ini bisa ditemukan oleh pengguna WhatsApp lainnya, seperti saya menemukan channel lainnya yang berisi ribuan followers itu. Dalam channel itu, kami membagikan jadwal Regular Meetup, foto/video pasca meetup, dan sesekali temuan-temuan dari buku.
Runtuhnya Channel WhatsApp Itu
Channel tersebut sempat berisi sekitar 25 followers atau lebih pada puncaknya. Namun jujur saya seperti berbicara sendirian di dalam channel tersebut! Tidak ada reaction apa-apa, dan jumlah followersnya pun tidak kunjung bertambah. Seringnya saya beri reaction sendiri post tersebut, aneh sekali rasanya! Meskipun saya tahu bahwa channel memang merupakan broadcast feature, bukan seperti grup pada umumnya. Sampai pada titik puncaknya saya membuat 1 polling. Harapan saya ketika saya memulai vote pertama, orang lainnya akan ikut memberi vote, namun nyatanya tidak. Saya menjadi satu-satunya voter dari polling tersebut, luar biasa diluar ekspektasi saya!
Saya coba melakukan survey ringan pada para peserta, apakah channel ini terlihat atau sebenarnya saya seperti mendapat shadow banning dari WhatsApp saja? Ternyata jawaban yang saya dapatkan rata-rata adalah mereka tidak tahu bahwa ada postingan di channel tersebut. Hal ini karena letak channel berada pada panel status yang mungkin juga jarang dilihat, tidak seperti grup yang ada di panel utama. Saya belajar dari kasus ini, bahwa visibilitas informasi jauh lebih penting dibanding isi informasinya. Percuma kita menyajikan konten/informasi berbobot jika tidak ada yang melihatnya. Pukulan telak, saya putuskan untuk migrasi!
Community Group WhatsApp
Akhirnya, channel yang belum genap berumur 1 bulan itu harus dinon-aktifkan. Kita kembali ke cara konvensional yaitu dengan menggunakan grup WhatsApp untuk visibilitas maksimal, dan menggunakan fitur Community untuk menggabungkan grup-grup yang ada. Cara ini cukup efektif hingga saat ini sudah ada ratusan orang yang tergabung dalam grup tersebut. Grup ini dibagi menjadi 2 grup utama yaitu General Discussion untuk membahas hal-hal umum seperti rekomendasi kafe, ide-ide, atau sekedar share informasi umum lainnya. Grup kedua adalah Book Recommendation & Discussion yang digunakan untuk membagikan rekomendasi buku, sekaligus membahas seputar buku. Selain itu dilengkapi dengan Announcement untuk membagikan info-info penting terkait komunitas dan kegiatannya. Kalau kamu tertarik untuk bergabung juga, bisa melalui link ini atau di menu bar di kiri (desktop & tablet) atau di atas (mobile).
Dari kejadian ini, kita belajar tentang pentingnya trial & error. Tidak apa-apa melakukan kesalahan, asalkan kita selalu melakukan adjustment atau penyesuaian dari kesalahan tersebut. Kadang berinovasi juga perlu dilengkapi dengan jajak pendapat dari objek inovasinya untuk bisa mendapatkan feedback apakah yang kita lakukan sudah benar atau belum. Feedback berkala sangatlah penting untuk sebuah komunitas agar bisa terus bertumbuh seiring berjalannya waktu.
Untuk teman-teman yang tertarik dengan cerita-cerita selanjutnya, bisa subscribe ke cerita ini dengan memasukkan email di sidebar sebelah kanan (untuk desktop/tablet) atau di bagian paling bawah (untuk mobile) agar selalu mendapatkan update berkala tentang cerita barunya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!
*Cerita ini merupakan bagian dari kumpulan cerita dalam rubrik Behind The Scene Story : Book at Cafe. Untuk mengakses arsip cerita sebelumnya atau setelahnya, dapat mengunjungi link berikut ini.