The Psychology of Money : Ketika Uang Bukan Soal Angka

Reading Time : 8 menit

Ketika kalian mendengar satu kata yaitu “uang”, maka gambaran apa yang langsung terlintas di benakmu? Apakah nominal di rekening? Apakah rumah atau mobil mewah? Atau mungkin justru gambaran ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui saat mendengar kata tersebut?

Ya, memang mungkin setiap manusia tidak akan pernah sama memaknai dan mengartikan tentang uang. Padahal, uang sebenarnya adalah benda nyata, dapat dilihat, dapat digenggam, dan dapat diraba. Namun benda unik bernama uang ini memiliki banyak makna dan persepsi. Meskipun uang adalah suatu benda yang nyata, namun cara setiap orang memaknainya bisa sangat berbeda. Ada yang melihat uang sebagai harga diri. Ada yang melihat uang sebagai kebahagiaan. Bahkan juga ada yang melihatnya sebagai kekhawatiran, ketakutan, dan tekanan.

Bisa kutebak kalian juga pasti mulai terbesit untuk bertanya “kenapa bisa seperti itu ?” Di buku ini lah saya menemukan jawabannya.

Gambar oleh Freepik

Buku ini bisa dibilang sebagai buku non-fiksi pertama saya yang bisa habis saya baca paling cepat dibanding buku non-fiksi lain. Alasannya : mungkin karena saya suka topiknya yaitu “uang”. Bagi saya yang sudah memasuki usia manusia dewasa ini, sepertinya uang adalah hal yang paling erat dengan fase hidup saya saat ini. Rasanya hampir semua keputusan yang diambil di fase hidup ini, berhubungan dengan uang. Mungkin karena hal itu lah yang membuat saya punya motivasi yang lebih besar untuk menyelesaikan buku ini. 

Saya merasa kalau saya punya pengetahuan yang baik dan benar mengenai uang yang didasarkan pada literasi yang baik (bukan hanya berdasarkan insting atau kebiasaan pribadi yang sudah saya jalankan selama ini tanpa ilmu) maka seharusnya saya bisa menjalani hidup ini lebih mudah.

Saya penasaran sebenarnya ada misteri apa dengan uang? Apakah ada hal hal tentang uang yang saya belum pahami? Apakah keputusan-keputusan saya tentang uang selama ini sudah benar atau justru keliru?

Pada akhirnya buku ini banyak membawa saya berpikir lebih reflektif mengenai bagaimana perilaku saya selama ini dengan uang, baik yang saya sadari maupun tidak. Satu hal yang ditekankan di buku ini, bahwa cara kita memandang uang atau mengelola uang sangat berhubungan dengan perilaku kita. Cara kita memandang uang seringkali dibentuk sejak kecil, dari bagaimana kita melihat orang tua mengelola uang, kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial sekitar, dan pengalaman hidup apa saja yang membentuk diri kita. Itulah yang tanpa kita sadari bertransformasi menjadi “cerita dan persepsi” kita tentang uang.

Disinilah konsep dari Psychology of Money yang disampaikan oleh Morgan Housel menjadi menarik. Bahwa uang memang bukan sekedar angka atau nominal dan hitungan matematis. Uang adalah cerminan dari perilaku manusia. Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kita, namun lebih banyak berhubungan dengan perilaku kita. Perilaku adalah hal yang sukar diajarkan, bahkan kepada orang orang yang sangat cerdas. Karena perilaku dibentuk oleh kebiasaan dalam waktu yang lama. Dan ironisnya, perilaku manusia jarang sekali sepenuhnya rasional. Karena dipengaruhi oleh banyak hal termasuk ego dan perasaan.

Dari sini saya mulai menyadari, bahwa persoalan uang bukan hanya soal bagaimana cara mendapatkannya, tapi bagaimana kita memperlakukannya. Untuk itu ada beberapa catatan yang selalu saya coba terapkan bagaimana seharusnya perilaku kita terhadap uang

Morgan Housel memberikan ilustrasi yang sangat menarik dan melekat di otak saya mengenai rasa cukup dan target yang jelas melalui istilah “tiang gawang”. Seringkali kita merasa tidak pernah merasa “sampai pada goal” kita. Karena ternyata tanpa kita sadari, setiap kali kita maju satu langkah, kita juga ikut mendorong tiang gawang dua langkah ke depan. Itulah kenapa kita selalu merasa ketinggalan, tidak pernah merasa sudah dekat atau sampai pada tujuan. Pada akhirnya satu satunya cara mengejarnya adalah dengan menanggung resiko yang makin lama makin besar. Jika harapan dan keinginan senantiasa naik seiring dengan hasil, seberapa keras kita berusaha, maka kita akan tetap merasa “kurang”, bahkan saat sudah dapat lebih.

Gambar oleh kherudinakhmad (freepik)

Realita lainnya adalah banyak dari kita yang bahkan tidak punya tiang gawang. Bayangkan permainan sepakbola tanpa tiang gawang. Pemain akan bingung mengarahkan bola kemana. Kita tidak tahu kapan permainan ini usai, siapa yang memenangkan permainan, karena tidak ada tiang gawang yang dituju. Sama seperti bermain sepak bola, kita butuh tujuan yang jelas untuk tahu ke mana harus mengarahkan usaha, kita butuh tahu dimana gawangnya.

Begitupun dalam kehidupan ini. Tanpa tujuan keuangan yang jelas, kita hanya akan terus berlari tanpa tahu kapan kita benar-benar “menang”. Tanpa tujuan keuangan yang jelas, kita hanya akan terus bermain tanpa pernah benar-benar tahu apakah kita sudah menang dan sudah waktunya berhenti.

Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu menentukan dimana dan seberapa jauh gawangmu?

Setelah saya membaca sampai di bab “kemerdekaan”, saya tersadar bahwa memang sejatinya bentuk tertinggi kekayaan adalah kemampuan untuk  bangun pagi dan bisa melakukan apapun yang diinginkan di hari itu.

Gambar oleh kibrispdr.org (pinterest)

Ketika saya pikir lagi, umumnya untuk apa orang ingin lebih kaya? Alasan klisenya biasanya agar bisa bahagia, merasa aman dan sejahtera. Tapi bahagia sendiri adalah subjek yang rumit dan kompleks karena semua orang punya persepsi berbeda. Bukan hal yang sejelas hitam atau putih. Namun, disini Morgan Housel memberikan hal yang unik bagi saya yaitu jika ada kesamaan umum secara universal terkait definisi bahagia adalah ” ketika orang dapat memegang kendali atas hidupnya”.  Setidaknya, punya sedikit kekayaan membuat kita bisa punya kendali untuk tidak masuk kerja beberapa hari tanpa kehabisan uang. 

Punya kekayaan lebih banyak lagi (contohnya dana darurat selama 6x pengeluaran bulanan) membuat kita bisa lebih tidak takut pada bos kita karena punya waktu 6 bulan tanpa kehabisan uang sampai dapat pekerjaan baru.  Punya lebih lebih banyak lagi kekayaan (dana darurat, aset dan investasi) maka akan membuat kita bisa punya kendali untuk memilih pekerjaan dengan gaji lebih kecil tapi jam kerja lebih fleksibel. Mungkin istilah umumnya “suka-suka kita mau ngapain”, karena sudah tidak butuh uang.

Disini saya langsung bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah punya kendali atas hidup saya sendiri? Seberapa besar kendali yang saya punya?

Kekayaan sebenarnya adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat atau sesuatu yang belum dibelanjakan. Sedangkan kaya, merujuk ke pendapatan saat ini. Tidak mengetahui perbedaan keduanya, umumnya menjadi alasan mengapa banyak keputusan buruk tentang uang.

Gambar oleh macrovector (freepik)

Seseorang bisa membeli mobil seharga 1M, hampir pasti dapat dikatakan kaya. Jadi, tidak sulit menemukan orang kaya. Karena seringkali mereka sengaja menampilkan diri. Namun, sebenarnya kekayaan itu sifatnya tersembunyi. Karena kekayaan adalah pendapatan yang tidak/belum dibelanjakan. Kekayaan adalah pilihan yang belum diambil untuk membeli sesuatu kelak. Kekayaan bukan tentang membeli lebih banyak hari ini, tapi tentang memberi diri kita kebebasan untuk memilih lebih banyak di masa depan.

Banyak orang terlihat kaya dari luar, tapi yang tidak terlihat adalah berapa yang mereka simpan, dan seberapa aman kondisi finansial mereka. Menjadi kaya dan terlihat kaya adalah dua hal yang berbeda. Masalahnya, lebih mudah menemukan teladan kaya, dan lebih sulit menemukan pemilik kekayaan karena keberhasilan mereka tersembunyi.

Menurut saya buku ini sangat menarik dan memberikan banyak perspektif tentang uang yang mungkin belum banyak saya sadari sebelumnya. Sesuai dengan judulnya, Morgan Housel membawa kita untuk menjadi manusia yang lebih reflektif dan rasional saat membaca buku ini dalam menghadapi uang. Dari buku ini saya belajar bahwa uang bukan sekedar alat dan angka. 

Tapi uang adalah cerminan diri kita mengenai bagaimana kita berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Seberapa besar angka uang yang kita punya, jika kita tidak punya perilaku dan emosional yang baik terhadap uang, maka uang tidak akan membawa kita kemana mana. Mungkin yang perlu kita ubah bukan jumlah uang kita terlebih dahulu, tapi bagaimana kita memandangnya.

Menurut saya buku ini sangat cocok dibaca oleh kita yang merasa ada sesuatu dari uang yang perlu kita ketahui lebih dari sekedar angka.

Sekian personal summary buku The Psychology of Money oleh Morgan Housel kali ini. Tetap stay tune untuk personal summary buku lainnya! Kalau kamu ingin submit personal summary-mu sendiri sebagai member Book at Cafe, bisa langsung kunjungi link ini yaa!

Tentang Penulis
Picture of Risna Silvianti
Risna Silvianti
Determined, Accountable, Curious - a reader of life and stories.

DAFTAR ISI

CEK PERSONAL SUMMARY LAINNYA

SHARE TULISAN INI

CEK AGENDA TERDEKAT

SUBMIT TULISANMU SENDIRI

Kirimkan tulisan Book Personal Summary mu sendiri untuk dipublikasikan di website Book at Cafe.

Scroll to Top