Reading Time : 5 menit
“Kamu harus lebih banyak tersenyum, biar kelihatan manis.”
“Sebaiknya pemimpin jangan perempuan deh, pasti terlalu banyak pakai perasaan”
“Jangan berpakaian seperti itu, nanti mengundang perhatian.”
Secara tidak kronologis, saya ingin memulai review ini dengan gagasan Chimamanda Ngozi Adichie tentang feminisme. Baginya ada dua rumus sederhana feminisme. Yang pertama tentu adalah premis kuat kesetaraan bahwa ‘Diriku adalah penting dan aku sama pentingnya dengan orang lain’. Yang kedua dan sering terlewatkan ‘Dapatkah kamu membalik X dan mendapat hasil yang sama?’. Jika kamu mengkritik suatu X pada wanita tapi tidak mengkritik X pada pria, maka kamu tidak memiliki masalah dengan X, tetapi dengan wanita itu sendiri. Pernyataan diawal adalah contoh-contohnya. Jarang sekali kita dengar pernyataan diatas diajukan untuk seorang laki-laki.
Sesuatu yang kita anggap jelas konotasi seksis-nya, seringkali terdengar sangat biasa dan remeh. Adichie hadir menjelaskan dengan gamblang bahwa memang ada yang salah dengan peran gender di masyarakat. Membicarakan soal gender memang tidak nyaman, tapi ada harga yang harus dibayar oleh ketidakacuhan pada sistem yang menindas.
Adichie juga berargumen cara kita mengajari anak-anak lelaki justru sangat berbahaya bagi mereka. Kita melumpuhkan kemanusiaan yang mereka miliki dengan definisi maskulinitas yang amat sempit dan ego yang rapuh. Semakin sulit seorang pria untuk menjadi yang diharuskan justru semakin lemah ego mereka. Dan kemudian kita membesarkan anak perempuan untuk memenuhi ego anak laki-laki yang rapuh itu.
A Feminist Manifesto oleh Chimamanda Ngozi Adichie merupakan gabungan dua tulisan yaitu Kita Semua Harus Menjadi Feminis dan Dear Ijeawele. Pada bagian kedua Adichie menulis surat jawaban akan keresahan temannya yang bertanya bagaimana membesarkan anak untuk menjadi feminis. Ia menulis 15 anjuran dan solusi yang terasa begitu nyata dan dekat dengan hal-hal yang kita hadapi sehari-hari.
Meskipun menjelaskan ide-ide penulis mungkin akan merusak pengalaman membaca, saya tidak bisa menahan diri untuk berbagi ide tersebut secara singkat (atau melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kepada orang-orang jika anda mungkin tidak akan membaca buku ini). Saya jamin buku ini tetap layak dibaca dan masih banyak hal baik yang tidak bisa saya katakan sekaligus tentang buku ini, kiranya dapat membuat pembaca review tertarik.
Manifesto feminis dalam 15 anjuran :
- Jadilah manusia yang seutuhnya dalam membesarkan anak
- Besarkan anak secara bersama-sama
- Ajari bahwa gagasan “peran gender” adalah omong kosong
- Waspadai gagasan feminism lite (gagasan bahwa kesetaraan perempuan bersyarat)
- Ajari membaca
- Ajari mempertanyakan bahasa
- Katakan bahwa pernikahan bukanlah pencapaian
- Ajari untuk menolak “disukai”
- Berikan rasa identitas
- Hati-hati dalam terlibat dengannya dan cara berpakaiannya
- Ajari mempertanyakan penggunaan biologi selektif budaya yang digunakan untuk “alasan” norma-norma sosial
- Bicara tentang seks sedini mungkin
- Bicara tentang cinta dan ikuti prosesnya
- Ketika bicara soal penindasan, kesalehan bukanlah prasyarat untuk martabat
- Ajari soal perbedaan
Mematahkan Manifestasi Feminis
Selain berulang kali membahas ide-ide yang salah tentang gender di masyarakat Adichie juga mengungkapkan banyak upaya pria (sedihnya kadang wanita) dalam mematahkan semangat feminist, berikut yang bisa saya rangkum:
Kenapa tidak menyebutnya hak asasi manusia jika memang setara?
Feminisme tentu saja merupakan bagian dari hak asasi manusia, tetapi dengan menggunakan hak asasi manusia saja berarti menyangkal masalah yang mengakar tentang gender. Hal ini sama seperti bertanya pada aktivis yang menyuarakan hak asasi kulit hitam dan bertanya mengapa tidak hak manusia saja? kenapa harus kulit hitam?
Wanita mungkin menghadapi hal buruk dimasa lalu, tapi sekarang sudah lebih baik
Selama berabad-abad manusia dibagi menjadi dua kelompok dimana salah satunya dianggap lebih rendah dari yang lain. Masih ada banyak standar atau norma yang dibuat oleh laki-laki bahkan sampai sekarang dan ide-ide tentang gender yang sama sekali tidak berubah. Kenyataan bahwa banyak ucapan yang sebenarnya seksis bahkan misoginis masih dianggap normal adalah bukti nyatanya. Mudah mengatakan “tapi wanita bisa menolak semua ini”. Memang. Tapi kenyataannya jauh lebih kompleks saat kita adalah makhluk sosial yang hidup di masyarakat dengan ide-ide patriarki yang sudah terinternalisasi.
Mencampuradukkan tuntutan
Cara lain mematahkan seruan feminisme adalah dengan berkata “Pria miskin juga mengalami kesulitan”. Adichie memaparkan betapa gender dan kelas adalah hal yang berbeda. bahkan lelaki miskin masih mendapatkan keistimewaan menjadi laki-laki.
Kenapa Feminist Terdengar Marah
Kata feminis hari ini menjadi begitu berat dengan digelayuti narasi-narasi yang negatif. Feminisme terkesan marah, menuntut, membangkang. Adichie memvalidasi kemarahan tentang ketidaksetaraan gender. Nyatanya kita tidak cukup marah akan hal-hal yang dihadapi wanita, nyatanya lagi kita tidak perlu jadi wanita untuk marah tentang isu-isu feminisme. Tapi selain marah kita juga harus berharap. Adichie memantik rasa kepercayaan pada kemampuan manusia untuk mentransformasi ulang diri untuk jadi lebih baik melalui buku Manifesto Feminis ini.
Sekian personal summary buku A Feminist Manifesto oleh Chimamanda Ngozi Adichie kali ini. Tetap stay tune untuk personal summary buku lainnya! Kalau kamu ingin submit personal summary-mu sendiri sebagai member Book at Cafe, bisa langsung kunjungi link ini yaa!