Banyak orang memulai membaca buku non-fiksi untuk membantu menjawab suatu pertanyaan dalam kehidupannya. Bagi saya, pertemuan pertama saya dengan buku non-fiksi diluar buku pelajaran adalah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya seputar bisnis yang sedang saya rintis kala itu. Namun jujur saja, tidak mungkin kita bisa menemukan buku yang mampu menjawab semua pertanyaan kita tentang satu topik dalam satu jilid buku. Itulah seni-nya buku!
Membaca buku non-fiksi, rasanya seperti mengumpulkan pecahan-pecahan puzzle dari satu buku ke buku lain untuk menghasilkan satu gambaran besar dari jawaban pertanyaan kita. Tidak kalah seru dari ketika kita membaca buku novel misteri. Namun kadang kita masih sering bingung tentang bagaimana melakukannya? Di dalam artikel ini akan saya bagikan 5 tips yang biasa saya lakukan untuk saling menghubungkan puzzle itu saat membaca buku. Yuk simak lebih lanjut!
Mencatat Insight Secara Lengkap
Bagi saya, satu buku gagal saya baca jika saya tidak berhasil untuk mencatat apa-apa dari buku tersebut. Semakin banyak saya mencatat, maka semakin banyak sesi refleksi yang terjadi selama saya membaca buku tersebut. Makin banyak sesi refleksi yang terjadi, maka semakin banyak saya belajar. Semakin banyak saya belajar, maka semakin baik otak saya bekerja untuk membuat hubungan antar satu catatan dengan catatan lain. Jika dalam 3 jam sesi membaca, kamu hanya menghabiskan 30 menit untuk membaca dan 2.5 jam untuk membuat catatan tentang bacaan tersebut, mungkin itu tanda yang baik bahwa buku itu cocok untukmu di waktu dan momentum yang tepat saat ini.

Jika tertarik tentang artikel lain tentang membuat catatan, bisa cek artikel lainnya tentang membuat catatan disini. Namun mencatat sesuatu akan menjadi pekerjaan yang membingungkan jika kita tidak mempersiapkan jejak untuk catatan itu dibaca ulang di masa depan. Oleh karena itu, upayakan untuk mencatat setiap insight secara lengkap. Lengkap disini artinya minimal terdapat info tentang dari buku apa insight itu didapat, dan di halaman berapa dari buku tersebut kita mendapatkan insight itu. Dengan mencatat minimal 2 jejak ini, kita akan dengan mudah menggali ulang insight tersebut di masa depan. Sekedar untuk mengkonfirmasi ulang insight tersebut, atau menggali konteks tentang inisght tersebut.
Membiasakan Membagi Insight Berdasarkan Kategori
Kesalahan yang paling sering saya lakukan adalah membiarkan insight-insight yang sudah saya tulis berserakan berantakan dimana-mana. Andaikata saya dapat mengulang dari proses pertama kali saya membaca, saya akan memastikan untuk punya note yang berbeda untuk kategori insight yang berbeda. Meskipun kita menemukan puzzle dengan bentuk yang sama, bisa jadi itu berasal dari jenis puzzle yang berbeda dengan gambar yang berbeda juga. Catatan tentang bisnis, perlu dipisahkan dari catatan tentang spiritual. Walaupun dalam jangka panjang, hal-hal tersebut bisa jadi sangat berkaitan, namun pastikan untuk memisahkannya berdasarkan kategori sejak awal. Hal ini penting untuk mempermudah kita menemukan catatan yang tepat pada waktu yang tepat.

Kategorisasi tidak selalu harus berdasarkan genre dari buku tersebut. Bisa jadi berdasarkan proyek yang kita lakukan, tahun membaca, atau rumpun ilmunya. Meskipun demikian, cara paling mudah untuk membuat kategorisasi adalah berdasarkan genre dari buku tersebut. Karena biasanya buku dengan genre yang sama, punya relevansi yang cukup mirip antara satu dengan yang lain. Selain itu, biasakan untuk buat semacam daftar isi dari buku catatan kita. Sehingga kita bisa lebih mudah untuk menemukan sesuatu dari buku catatan tersebut di masa depan. Bayangkan kita sedang menyiapkan harta karun untuk ditemukan anak kita di masa depan. Tentu kita ingin menuliskan clue dan petunjuk untuk memastikan harta karun tersebut bisa ditemukan.
Jembatan Referensi
Saat membaca sebuah buku non-fiksi, sering kali kita menemukan penulis mereferensikan buku lain dalam bukunya, baik dalam bentuk catatan kaki, catatan akhir, useful reference, atau sekedar penyebutan sebuah buku/tokoh di tengah bab. Catat dulu saja referensi yang didapat dari buku tersebut untuk membangun jembatan referensi. Bisa jadi jika kita menyukai sebuah buku, kita juga akan suka beberapa buku yang direferensikan oleh penulis tersebut. Untuk saya sendiri, biasanya jika saya menemukan satu judul buku yang disebut lebih dari dua atau tiga kali dalam buku yang berbeda, saya akan masukkan buku tersebut ke dalam wishlist buku saya. Karena bisa jadi, buku yang disebut berkali-kali itu menjadi tanda bahwa buku tersebut adalah buku jembatan yang saya cari.

Selain itu, membuat jembatan referensi juga membantu kita untuk mencari sumber utama dari sebuah premis dalam satu buku. Seringkali penting untuk mencari akar premis dari buku-buku yang kita baca. Semakin dalam akar yang kita temukan, maka semakin dalam dan kuat juga pemahaman kita terhadap suatu konsep yang sedang kita cari. Jika penulis menyampaikan bahwa dia mempunyai seorang guru atau mentor, cari siapa gurunya, dan baca buku dari gurunya. Setelah kita menemukan sumber mata airnya, maka dengan mudah kita bisa menemukan hilir lain dari aliran air tersebut.
Membuat Pertanyaan Lanjutan
Setelah kita menemukan sumber dari bacaan yang kita baca, akan sangat mudah untuk memunculkan pertanyaan baru yang menunjang pertanyaan pertama kita. Seringkali jawaban yang bagus, dihasilkan dari pertanyaan-pertanyaan yang bagus juga. Oleh karena itu, biasakan untuk membuat pertanyaan lanjutan setelah setiap pertanyaan lama terjawab. Momen membuat pertanyaan ini bisa membantu kita untuk melatih rasa keingin tahuan kita. Bahkan melatih kita untuk berpikir kritis atas suatu hal.
Setiap peneliti yang baik tentu akan memulai penelitiannya dari suatu pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya sebelumnya, dan terus bekerja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan komplementer lainnya. Membaca buku non-fiksi juga bisa dianalogikan dengan menjadi peneliti tadi. Semakin sering kita membuat dan menemukan sebuah pertanyaan, semakin bersemangat juga kita untuk mencari jawabannya dalam buku-buku lainnya.
Cari Reading Buddy
Waktu kita terbatas, dan tidak mungkin kita bisa membaca semua buku yang ada di dunia dalam sepanjang masa hidup kita. Oleh karena itu menemukan reading buddy dapat menjadi cara paling efektif untuk menemukan jawaban bersama dari buku-buku yang berbeda. Setidaknya kita bisa bertukar referensi buku yang mungkin bisa menjawab pertanyaan kita. Reading buddy akan sangat mudah ditemukan di komunitas-komunitas membaca buku. Jangan ragu untuk menyapa orang lain yang kebetulan sedang membaca tentang buku yang setema atau setopik dengan yang sedang kita baca. Coba tanyakan apa isi buku tersebut, kenapa mereka membacanya, dan apa hal paling menarik dari buku tersebut.

Saya sendiri sering melakukannya jika menemukan orang yang sedang membaca buku yang ada di wishlist saya, atau orang yang sedang membaca buku yang sudah pernah saya baca. Menanyakan pada orang yang sedang membaca buku yang sudah pernah kita baca bisa membantu kita membangun dan mengkonfirmasi ulang insight yang pernah kita dapatkan. Karena buku yang sama persis yang dibaca oleh dua orang yang berbeda bisa jadi menghasilkan kesan yang berbeda.
Selain itu, coba sapa orang-orang yang banyak mencatat. Sering kali orang yang banyak mencatat adalah orang yang sedang tercerahkan oleh sebuah buku. Dan orang yang sedang tercerahkan adalah orang yang paling bersedia dengan senang hati menjelaskan apa yang baru saja ia baca dan ia dapatkan. Meskipun kadang orang tersebut sedang membaca buku yang tidak setopik dengan yang kita cari, kadang kita tetap bisa mendapatkan sesuatu yang masih berhubungan dengan apa yang kita cari. Don’t lose the opportunity!
Bonus : Sabar dan Biarkan Waktu yang Menjawab
Tips terakhir sebagai bonus yang mungkin terdengar klise, namun sering kita lupakan adalah sabar. Di masa kini, orang terbiasa hidup dengan sangat terburu-buru. Bisa jadi hal ini disebabkan karena information overload yang terdia dimana-mana. Sehingga kita selalu ingin mendapatkan sesuatu secara instan. Ada kalanya jawaban dari sebuah pertanyaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa terjawab dengan baik. Hal ini bukan karena bukunya belum ada, namun karena guru terbaik adalah pengalaman. Terkadang pelajaran hidup bisa membantu kita memahami sesuatu dengan lebih baik, sehingga sebuah hubungan antar konsep yang telah kita pelajari dapat terbentuk dengan baik dan jelas. Maka dari itu, saran saya : sabar saja! Biarkan waktu yang menjawab.
Ada banyak hal yang kadang tidak muncul meskipun terus kita cari, dan jawabannya sedang ada tepat di ujung hidung kita. Bisa jadi karena blind spot. Maka biarkan ia muncul, atau dibantu dimunculkan oleh orang-orang lain di sekitar kita. Mungkin cukup ini tips dari saya tentang bagaimana menghubungkan pecahan ‘puzzle’ saat membaca buku. Semoga membantu dan sampai jumpa di lain kesempatan!
Jika Anda ingin menemukan artikel lainnya, bisa kunjungi rubrik artikel di link berikut ini.