Reading Time : 9 minutes
Halo semua para pembaca buku! Tulisan ini adalah esai pertama dari Book at Cafe. Dalam rubrik artikel & esai ini, akan dibahas berbagai hal tentang tips, trik, dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan kita para pembaca dan penikmat buku non-fiksi. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan tentang Book Note Making atau membuat catatan dari buku yang kita baca.
Membuat catatan terlihat sepele, apa susahnya membuat catatan? Namun justru karena saking sepelenya, saya sempat pada masa membuat catatan dengan cara yang kurang tepat. Sehingga catatan saya cuma jadi sebuah tulisan tangan, yang memindahkan tulisan dari buku bacaan ke buku catatan saja. Padahal sebenarnya mencatat insight dari sebuah buku bisa jadi sebuah pengalaman yang berbeda, menarik, dan tentu lebih bermanfaat. Penasaran apa yang berbeda? Yuk simak penjelasan lebih lanjutnya!
Catatan Lebih Dari Sekedar Copy-Paste Tulisan Dalam Buku
Apakah kamu sering membaca sebuah buku, lalu menemukan sebuah kalimat yang menarik, lantas menuliskan kalimat itu persis ke dalam catatanmu? Padahal jika dipikirkan kembali, kenapa harus menuliskan kalimat itu persis ke dalam catatan kita? Kan tulisan itu tidak akan kemana-mana, dan akan tetap berada di buku itu? Saya pernah berada di fase itu juga!

Saat itu saya punya satu buku catatan yang penuh dari buku-buku yang sudah saya baca sebelumnya. Setelah lewat 5 tahun dari catatan itu ditulis saya tidak sengaja menemukan catatan itu kembali dan mulai membaca ulang catatan tersebut. Setelah menghapus debu-debu dari catatan itu, tanda bahwa catatan itu tidak pernah tersentuh, saya merasakan flashback ke masa 5 tahun lalu. Saya coba baca catatan itu satu per satu.
Saya merasakan berbagai perasaan bercampur aduk, antara kagum, lucu, dan bingung. Tapi saya justru penasaran dengan kenapa saya bisa bingung, itu kan catatan saya sendiri? Saya bingung dengan beberapa bagian dari catatan itu, karena cuma dipenuhi quote dan beberapa kalimat yang saya lupa kenapa saya mencatat kalimat itu! Saya berani pastikan saya mencatat sebuah temuan pasti ada sebabnya. Dan saya yakin sebabnya adalah karena hal itu penting, setidaknya saat itu. Tapi saya lupa kenapa itu penting, dan apakah masih penting saat ini?
Setelah melewati beberapa kebingungan, saya kebetulan bertemu dengan satu catatan yang kebetulan saya masih ingat betul latar belakangnya. Kapan saya mencatat itu, kenapa mencatat itu, dan darimana atau dari buku apa saya mendapat catatan itu. Lengkap dengan hubungannya pada apa yang masih saya anggap penting di hari ini. Lalu saya berpikir sejenak, andai kata semua catatan saya lengkap dengan informasi ini, tentu saya tidak perlu lagi bersusah payah mengingat-ingat detailnya seperti sebelumnya. Sejak itu saya mulai berpikir, bahwa mencatat tidak bisa hanya sekedar copy-paste tulisan menarik dari sebuah buku. Kita bisa lebih dari itu.
Kita Menulis Untuk Merasakan Hidup Dua Kali
Saya teringat sebuah quote dari Anaïs Nin, “we write to taste life twice, in the moment and retrospect.” Quote ini punya makna yang cukup dalam, bahwa sebenarnya kita menulis (mencatat) untuk keperluan diri kita di masa depan, bukan sekedar diri kita di masa sekarang. Jadi jika ada satu cara untuk berbicara dengan diri kita di masa depan, salah satunya adalah dengan mencatat. Jika memang begitu, maka kita perlu menyiapkan catatan kita untuk dibaca oleh kita di masa depan juga. Dimana harus lengkap dengan konteks yang mendasarinya. Jika kita seorang pembaca buku, bisa saya pastikan bahwa kita pasti berpikir dengan cara yang berbeda 5 tahun kedepan. Oleh karena itu kita tidak boleh berasumsi bahwa kita di masa depan akan ingat dan paham 100% dengan catatan kita di masa sekarang.
Catatan atau note memiliki akar kata dari bahasa Latin yaitu nota yang berarti tanda atau petunjuk. Bisa jadi artinya adalah kita mencatat untuk berusaha membuat tanda bagi diri kita di masa depan. Oleh karena itu, tulislah selengkap mungkin! Tidak hanya tentang apa kalimatnya, tapi apa momen yang mendasarinya, nuansa dibaliknya, dan keadaan yang melingkupinya. Meskipun kita tahu bahwa kita sedang mencatat untuk diri kita di masa depan, bisa jadi kita tidak tahu mana yang penting untuk diri kita di masa itu. Mencatat selengkap-lengkapnya bisa jadi salah satu cara untuk membantu kita di masa depan untuk menemukan sesuatu yang penting dari catatan-catatan yang mungkin tak lagi penting di masa itu.
Konteks Bisa Lebih Penting Ketimbang Konten
Otak kita adalah alat super-prosesor yang sangat canggih dan bekerja secara luar biasa. Seperti dalam buku Learning How to Learn oleh Barbara Oakley, otak kita terdiri dari kumpulan node yang saling terhubung satu sama lain. Semakin cerdas seseorang, maka semakin banyak hubungan antar node yang terbentuk dalam otaknya. Sehingga ia dapat menghubungkan satu hal dengan hal lain yang mungkin tidak dapat dilihat oleh orang kebanyakan.
Satu hal yang sangat saya sukai dari membaca buku non-fiksi adalah momen ketika otak saya tiba-tiba memikirkan sesuatu setelah mendapat trigger dari sebuah kalimat dalam sebuah buku. Seringkali momen ini jauh lebih penting dari kalimat tersebut. Pada saat ini terjadi, otak kita sedang membangun hubungan baru dengan informasi sebelumnya yang pernah kita kumpulkan. Mencatat konteks dari momen ini bisa jadi lebih penting dibandingkan mencatat konten kalimat dari buku itu sendiri. Bagaimana contohnya?
Misalnya saat saya membaca sebuah artikel tentang Second Brain oleh Tiago Forte, pada bagian framework CODE di bagian Capture, saya tiba-tiba teringat bahwa saya pernah mempunyai sebuah draft ide tulisan tentang membuat catatan, yang akhirnya menjadi tulisan ini. Saya coba catat momen ini dan cari draft ide tulisan saya tadi. Seketika rasanya saya teringat tentang kenapa saya mencatat draft ide tersebut. Semua informasi lama seperti dibuka dari sebuah kotak brankas, dan tiba-tiba saya ingin sekali menulis kerangka dari tulisan ini hingga selesai. Catatan momen ini bisa jadi jauh lebih penting untuk saya saat itu, dibandingkan konten framework CODE yang sedang baca saat itu.
Maka dari itu jangan ragu untuk mencatat konteks yang melingkupi sebuah insight yang kita temukan dari sebuah buku. Konteks ini bisa sesimpel berisi tanggal catatan itu dicatat, apa yang sempat terpikirkan saat mencatat hal itu, kenapa catatan itu menarik saat itu, dan apa hal lain yang pernah dicatat sebelumnya yang masih berhubungan dengan catatan ini. Meskipun membuat catatan menjadi lebih panjang dan memakan waktu, percayalah bahwa itu layak dan akan sangat berguna untuk si kita di masa depan.
Jangan Menunda Mencatat Sebuah Ide

Sedikit tips dalam mencatat sebuah insight, jangan pernah menunda untuk mencatatnya! Kadang kita menunggu untuk menyelesaikan satu bab sebelum membuat catatan, nanggung banget! Tapi sebuah ide dan insight bisa jadi datang seperti sambaran petir, datang dengan cepat dan hilang dengan cepat juga. Jangan sekali-sekali menunda mencatatnya, se-nyeleneh dan seliar apapun idenya. Sisa bab yang nanggung itu masih bisa dibaca nanti, dia tidak akan kemana-mana. Biasanya saya akan mencatat kalimat yang men-trigger saya menemukan ide tersebut, lalu menambahkan 2-3 kalimat untuk menjelaskan tentang apa ide itu dan mengapa itu penting. Kadang dalam satu sesi membaca sendirian, saya bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk melamun, memikirkan, dan menulis ide yang tiba-tiba muncul dari sebuah buku ketimbang membaca bukunya!
Jika mengutip dari buku Building a Second Brain dari Tiago Forte, otak kita adalah mesin berpikir untuk menciptakan ide, bukan sekedar tempat penyimpanan. Maka dari itu, jangan sia-siakan proses berpikir yang kadang datang tiba-tiba itu. Bisa jadi otak kita sedang bekerja dengan baik saat itu. Tinggalkan bukunya jika perlu, kejar idenya, catat konteksnya selengkap mungkin.
Disiplin Dalam Membuat Referensi
Meskipun membuat catatan dari buah pikiran kita penting, membuat referensi seputar catatan itu juga tidak kalah penting. Kita perlu disiplin dalam menyisipkan referensi dan membuat sitasi dari hasil pikiran kita itu dalam catatan kita. Setidaknya kita mencatat halaman berapa dari buku tersebut yang men-trigger pemikiran yang catat kita tadi. Sekedar menambahkan nomor halaman akan sangat mempermudah kita dalam proses review dan recall di kemudian hari.
Format dasar yang biasa saya gunakan adalah judul buku, nama penulis, nomor halaman per satu topik catatan, lalu hubungan ke catatan sebelumnya jika ada. Selain itu memberikan kategori catatan juga bisa membantu kita memetakan catatan kita, seperti membedakan lambang/simbol catatan. Mana catatan yang sifatnya informasi baru, mana ide yang layak dipertimbangkan ulang, mana rekomendasi bacaan lanjutan. Memberi box atau penanda lain seperti panah dan lingkaran juga dapat membantu memberikan penekanan bahwa sebuah bagian catatan punya value lebih tinggi dibanding bagian catatan lainnya di tempat yang sama.
Jembatan Petunjuk
Sebuah kotak harta karun yang memang ingin disembunyikan saja selalu punya peta untuk menemukannya, apalagi catatan kita yang memang ingin kita temukan di masa depan. Bayangkan membuat sebuah peta praktis yang memastikan kita bisa dengan mudah menemukan catatan kita. Saya sangat suka fitur link yang ada pada tools Obsidian. Terutama pada bagian graph view dimana seperti membuka mindmap dari catatan-catatan kita. Semua catatan bisa memiliki jembatan antar konsep yang kita buat sendiri, sehingga kita bisa dengan mudah menemukan sebuah catatan yang berhubungan dengan catatan kita sebelumnya. Ingat bahwa catatan diambil dari kata tanda atau petunjuk, maka catatan yang tidak menandakan apa-apa dan tidak menunjukkan apa-apa tidak bisa dibilang sebagai sebuah catatan yang proper.

Meskipun saya masih menjadi tim pencatat dengan tangan menggunakan bolpen dan kertas, saya bisa bilang bahwa penggunaan tools teknologi seperti Notion dan Obsidian sangatlah membantu kita untuk membuat pengalaman mencatat bisa lebih menarik dan bermanfaat. Bayangkan jika saat membuat catatan menggunakan buku saya harus membuat daftar isi untuk mempermudah saya menemukan catatan saya, namun saat menggunakan tools ini saya cukup mengetik kata kunci dan semua catatan yang terkait akan muncul secara otomatis. Bayangkan berapa banyak waktu yang bisa kita hemat dari membolak balik kertas catatan kita.
Dengan segala kenyamanan menggunakan teknologi, tidak ada yang mewajibkan kita menggunakannya sepenuhnya. Kita tetap bebas memilih sistem yang mana yang paling pas untuk kita masing-masing. Saya pribadi menikmati ketidakteraturan dalam keteraturan saya membuat catatan. Saya menyebarnya ke banyak platform seperti chat WhatsApp, aplikasi notes di handphone, buku catatan yang lebih dari satu, sticky note, dan papan tulis. Setelahnya setiap beberapa waktu saya coba lakukan kurasi dan filtrasi catatan untuk dimasukkan ke platform-platform tadi sambil merapikannya. Intinya adalah memastikan kita membangun jembatan petunjuk yang mampu menuntun kita ke tempat dimana kita mencari sesuatu.
Sepertinya cukup sekian artikel tentang membuat catatan ini. Jika Anda punya pertanyaan untuk didiskusikan, boleh diskusikan secara personal atau melalui grup Book at Cafe. Saya akan dengan senang hati membantu jika saya bisa. Selanjutnya saya akan coba bongkar catatan-catatan saya lainnya, barangkali saya temukan draft ide lainnya untuk artikel lainnya. Sampai jumpa di lain kesempatan!
Jika Anda ingin menemukan artikel lainnya, bisa kunjungi rubrik artikel di link berikut ini.