Sesi regular meetup #23 Book at Cafe kembali ramai dihadiri oleh 8 peserta pada Senin lalu (03/11). Meetup hari itu cukup menyenangkan karena salah satu anggota, Kania, sedang merayakan ulang tahun di tanggal yang sama. Dalam sesi ini, peserta membaca dua kategori yang berada pada spektrum yang berbeda, namun tetap memiliki irisan, yaitu tentang sistemasi kewirausahaan dan tentang kehidupan yang bahagia. Apa saja yang dibahas pada Regular Meetup #23 kali ini? Ikuti terus garis besar bahasannya melalui resume kali ini, ya.
Sistemasi Kewirausahaan
Dalam setiap bisnis atau perusahaan, terdapat 3 jenis kategorisasi yang mewakili kecenderungan dari tiap-tiap pelaku dalam perusahaan tersebut yaitu : Entrepreneur, Manager, dan Pekerja. Setiap orang bisa mewakili lebih dari satu kategori dalam waktu yang sama, namun memiliki kecenderungan pada salah satu kategorinya. Ketiganya mempunyai fokus yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam menciptakan sistem untuk ketiganya, perlu menggunakan pendekatan yang berbeda pula. Kita perlu menciptakan sistem dimana melakukan sesuatu, jauh lebih menguntungkan dibanding tidak melakukannya. Hal ini dibahas dalam buku The E-Myth oleh Michael E. Berger.
Melengkapi pembahasan tentang sistem, dibahas juga tentang Gall’s Law dimana kita tidak boleh membangun sistem kompleks dari 0, karena itu tidak akan berjalan. Sistem yang komplek dibangun dari hasil evolusi berbagai sistem sederhana yang dijalankan bertahap. Memulai dengan hal yang kompleks justru akan memaksa kita untuk menyederhanakan ulang dan berujung pada membuang-buang waktu. Hal ini dibahas dalam buku The Personal MBA oleh Josh Kaufman.
Selain membahas tentang sistem bisnis, terbahas pula tentang pola marketing modern dengan membuat sistem bagaimana agar karya-karya kita dapat dengan mudah diakses oleh audience dan konsisten dibagikan. Kita perlu juga untuk berbagi tentang proses, tidak hanya tentang hasil akhir. Jangan takut untuk mendapatkan feedback agar bisa tetap relevan. Karya juga harus bersifat kolaboratif dan dapat menjangkau orang awam sekalipun. Hal ini dibahas dalam buku Show Your Work oleh Austin Kleon.
Sebagai penutup tentang kewirausahaan, terbahas juga tentang skill-skill mikro yang sangat perlu untuk dipelajari di masa kini. Tujuh mikro skill tersebut adalah : Advice Technique (meminta pendapat ketimbang sekedar memberi pendapat), Six-Minutes Networking (menjaga hubungan dengan relasi-relasi lama), Invert (mencari pendapat dari golongan yang 180 derajat berbeda), The Google Technique (menjadi orang yang memberi rekomendasi pada orang lain, seperti Google), The Attention Diet (mengurangi atensi pada hal-hal yang kurang penting), The Yes, And … Technique (memberikan kritik/pendapat dengan lebih eksploratif), dan Handling Rejection. Hal ini dibahas dalam buku Skip the Line oleh James Altucher.
Kehidupan yang Bahagia
Bicara tentang kebahagian, tentu kita ahrus mengerti dahulu apa filosofi dari kebahagiaan. Kebahagiaan ada ketika kita menghilangkan perasaan bahwa sesuatu telah hilang. Pikiran harus tertutup dari penyesalan masa lalu atau rencana masa depan. Menggantungkan kebahagiaan pada faktor eksternal sejatinya adalah delusi. Karena realitas pada dasarnya netral, tidak ada benar atau salah. Kitalah yang bertanggung jawab untuk memberikan interpretasi pada realitas itu. Musuh dari kedamaian pikiran adalah ekspektasi dari masyarakat dan orang lain. Kebahagiaan adalah keterampilan yang dibangun dari kebiasaan, dan meditasi bisa menjadi salah satu cara untuk mencapainya agar pikiran kita lebih membumi dan mampu mengontrol emosi agar tidak overthinking. Hal ini dibahas dalam buku The Almanack of Naval Ravikant oleh Eric Jorgenson.
Masih terkait dengan overthinking, disebutkan juga bahwa overthinking dapat menjadi alasan kita tidak bisa berumur panjang. Dengan tidak overthinking, terbiasa menumbuhkan kebiasaan baik, dan hidup dengan tidak tergesa-gesa, dapat meningkatkan potensi kita dapat berumur panjang. Selain itu, praktik stoikisme dapat membantu agar pikiran tetap jernih. Stoikisme bukan sekedar sifat acuh, melainkan stabilitas untuk menerima ketidakkekalan akan sesuatu, sehingga dapat lebih mudah untuk melepas atau berhenti dari sesuatu. Hal ini dibahas dalam buku Ikigai oleh Francesc Miralles.
Terkadang memang sulit untuk dapat melepas atau berhenti dari sesuatu, namun dalam diskusi ini terbahas tentang cara agar dapat lebih objektif dalam memutuskan kapan harus berhenti. Lebih mudah untuk memutuskan kapan harus berhenti secara objektif dengan memposisikan kegiatan yang kita lakukan saat itu sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan kita, bukan sebagai tujuan itu sendiri. Ketika kita mengingat alasan kenapa kita memulai, kita akan lebih objektif dalam menilai kapan harus berhenti. Namun, terdapat satu bias yang biasa muncul saat akan memutuskan untuk berhenti yaitu Sunk Cost Effect atau dalam bahasa jawa biasa kita sebut dengan “eman-eman”. Bias ini muncul saat kita mengingat dan menyayangkan biaya yang sudah kita keluarkan untuk mencapai titik ini, meskipun kita sedang jelas-jelas salah arah, yang berakhir tetap dilanjutkan. Untuk mengurangi bias ini, dapat dilakukan dua cara yaitu dengan melibatkan pihak eksternal yang tidak terkait dengan keputusan memulai, dan melihat dengan perspektif waktu yang lebih panjang. Hal ini dibahas dalam buku Quit oleh Annie Duke.
Dan sebagai pelengkap, dalam mencari kebahagiaan, kita perlu tahu tentang alasan dibalik mengapa kita bertindak (Why). Kita perlu menemukan hal-hal yang membahagiakan yang mampu menggerakkan kita. Salah satu cara dalam menemukan Why ini adalah dengan menggunakan metode Pengingat Memori, dimana kita menggali dan mencoba mengingat-ingat tentang 5 cerita di masa lalu yang paling berdampak dalam hidup kita. Cerita ini adalah momen paling menyenangkan dan momen paling menyedihkan. Dari menentukan titik-titik ini, kita dapat mengingat secara spesifik kapan kita tetap melakukan sesuatu meskipun tidak mendapatkan imbalan. Hal ini dibahas dalam buku Find Your Why oleh Simon Sinek.
Itulah resume dari apa yang dibahas dalam Regular Meetup #23 Book at Cafe. Cukup menarik karena membahas 2 hal dalam spektrum yang cukup berbeda, namun tetap dapat ditarik benang merahnya. Dalam setiap diskusi, kita selalu berusaha untuk saling berbagi insight, agar mampu tumbuh secara positif bersama. Semoga apa yang dibahas setiap minggu dapat selalu memberi manfaat dan pencerahan bagi seluruh anggotanya.
Jika kamu tertarik untuk mengikuti Regular Meetup selanjutnya, kami selalu ada di setiap hari Senin sore di kafe yang berbeda-beda. Untuk informasi lebih lengkapnya, silahkan kunjungi WhatsApp group, Instagram, atau Threads kami ya. Kami tunggu kunjungannya di minggu mendatang!
Referensi Buku
- Michael E. Gerber. 2019. The E-Myth Revisited.
- Josh Kaufman. 2010. Personal MBA.
- Austin Kleon. 2014. Show Your Work.
- James Altucher. 2021. Skip The Line.
- Eric Jorgenson. 2020. The Almanack of Naval Ravikant.
- Francesc Miralles. 2016. Ikigai.
- Annie Duke. 2022. Quit.
- Simon Sinek. 2017. Find Your Why.

Thanks to : Kelvin, Kania, Ieta, Danis, Rizky, Rudy, Mario, dan Fatur yang telah hadir dan meramaikan dalam Regular Meetup #23 ini.