Regular Meetup #24 Resume : Fokus Tujuan, Spesialisasi, dan Presentasi – Book at Cafe

Sesi regular meetup #24 Book at Cafe pada Senin lalu (10/11) ditemani dengan hujan di Kota Malang yang tak kunjung usai. Meetup hari itu cukup intimate dihadiri oleh 5 orang yang selalu antusias sejak awal diinisiasinya langkah ini. Resume kali ini akan sedikit berbeda dari resume sebelumnya dimana akan dibahas cukup mendalam poin-poin per buku yang didiskusikan, termasuk kata kunci yang terbahas dalam buku tersebut. Penasaran dengan apa saja yang dibahas pada Regular Meetup #24 kali ini? Ikuti terus garis besar bahasannya melalui resume kali ini, ya.

Dalam diskusi yang pertama, dibahas pendalaman dari buku Quit, dengan fokus pada cara mengambil keputusan untuk berhenti (quit), serta bagaimana mengidentifikasi kelayakan sebuah inisiatif.

  • Berhenti Sejak Dini: Strategi utama yang dibahas adalah bagaimana mengidentifikasi proyek yang sebaiknya tidak dilanjutkan sejak dini untuk menghindari kegagalan di kemudian hari. Dapat menggunakan metode Monkey & Pedestal yang dipopulerkan oleh Astro Keller dari divisi X Google. Secara singkat, metode ini menggunakan analogi pentas seni untuk sirkus monyet yang dapat menyanyi. Jika kita fokus pada membangun panggung (pedestal) tapi tidak fokus pada mengajari monyetnya bernyanyi, maka pentas seni akan gagal total. Oleh karena itu metode ini mengutamakan fokus pada pekerjaan berat yang menjadi kunci (monkey) terlebih dahulu dibandingkan pekerjaan ringan yang memberikan ilusi progres (pedestal).
  • Objektivitas dalam Pengambilan Keputusan: Menggunakan kerangka kerja yang terstruktur untuk memutuskan kapan harus berhenti, sehingga keputusan tidak dipengaruhi oleh keterikatan emosional. Dapat menggunakan metode pre-mortem dengan membayangkan kondisi kegagalan di masa depan, lalu menariknya mundur untuk membangun skenario-skenario kemungkinan. Hal ini sangat lumrah dilakukan dalam project manajement.
  • Kesetaraan Keputusan: Keputusan untuk berhenti harus memiliki bobot yang setara dengan keputusan untuk melanjutkan. Berhenti bukanlah sebuah kekalahan.
  • Proyek Kereta Cepat AS: Proyek yang menghubungkan San Francisco dan Los Angeles gagal karena tim fokus pada pembangunan rel di jalur datar (pedestal) dan mengabaikan tantangan utama, yaitu menembus dua gunung besar (monkey), yang biayanya ratusan kali lipat lebih mahal.
  • Proyek Foghorn Google: Sebuah inisiatif untuk mengubah air laut menjadi bahan bakar. Meskipun secara teknis mengubah air laut menjadi bahan bakar memungkinkan (pedestal), proyek ini dihentikan setelah 7 tahun karena “monyetnya” adalah ketidakmungkinan untuk membuat harganya lebih murah dari bensin ($8 per galon), sehingga tidak akan bisa diadopsi secara massal.
  • Memulai Bisnis: Fokus membuat kartu nama (pedestal) lebih dulu daripada mengembangkan produk atau layanan inti (monkey) adalah contoh ilusi kemajuan.

Diskusi dilanjutkan dengan pembahasan buku Range oleh David Epstein, berfokus pada bab tentang bagaimana dunia modern yang kompleks menuntut kemampuan berpikir generalis.

  • Dunia yang “Culas” (Wicked): Dunia modern digambarkan sebagai lingkungan belajar yang wicked—kompleks, tidak terstruktur, dan umpan baliknya tidak langsung—berbeda dengan lingkungan kind yang aturannya jelas dan umpan baliknya cepat.
  • Keunggulan Generalis Adaptif: Di dunia yang wicked, spesialisasi yang sempit tidak lagi cukup. Kemampuan berpikir abstrak, menghubungkan pola lintas domain, dan beradaptasi dengan cepat menjadi kunci dari keunggulan.
  • Berpikir Analogi: Orang yang mampu melihat analogi lintas bidang cenderung lebih mudah memahami masalah yang kompleks. Masa depan adalah milik mereka yang bisa belajar cepat dari berbagai konteks.
  • Dampak AI dan Otomasi: AI mengambil alih pekerjaan rutin, menyisakan pekerjaan yang membutuhkan penilaian, intuisi, dan koneksi ide lintas bidang yang merupakan keahlian para generalis.
  • Ilmuwan Pemenang Nobel: Banyak dari mereka memiliki hobi atau aktivitas di luar bidang utama mereka, yang mendukung pemikiran lintas domain atau multi disiplin.
  • Pertanyaan Wawancara: Pertanyaan seperti “Berapa banyak tukang servis piano di New York?” atau “Berapa banyak mobil di Jakarta?” digunakan untuk menguji kemampuan kandidat dalam menalar dan memecah masalah, bukan untuk mendapatkan jawaban yang akurat. Untuk dapat menalar dengan baik, dibutuhkan pengetahuan-pengetahuan dari berbagai bidang sehingga dapat membuat perkiraan.

Selanjutnya dibahas buku Show Your Work, sebuah buku yang mendorong para kreator untuk tidak menunggu kesempurnaan dan berani menunjukkan proses kerja mereka kepada publik.

  • Tunjukkan Karya, Jangan Tunggu Sempurna: Mendorong untuk belajar sambil jalan dan tidak menggodok ide terlalu lama hingga basi. Selain itu, penting juga mencari keseimbangan antara kalkulasi risiko dan keberanian untuk memulai.
  • Kreativitas Bersifat Sosial: Karya besar tidak lahir dari kesendirian, melainkan dari interaksi sosial, obrolan, dan berbagai pengaruh eksternal. Tidak ada yang benar-benar orisinal.
  • Semangat Amatir: Penting untuk selalu merasa sebagai seorang amatir yang mau terus belajar dan tidak merasa sudah menjadi yang paling ahli.
  • Bagikan Proses, Bukan Hanya Hasil: Jangan malu atau takut menunjukkan progres harian, bahkan jika hasilnya masih “jelek”. Konsistensi dalam berbagi proses akan menarik perhatian dan membuka peluang.
  • Arsipkan Segalanya: Mendokumentasikan proses dan behind the scenes dapat menjadi pengingat dan motivasi saat merasa lelah atau ingin menyerah.

Diskusi dilanjutkan dengan membahas buku Showtime Book, yang ditujukan untuk para performer di berbagai bidang (pembicara publik, pebisnis, dll) tentang cara tampil maksimal di atas panggung.

  • Panggung Ada di Mana Saja: Panggung (stage) tidak hanya panggung fisik, tetapi juga saat rapat, presentasi, atau situasi apapun di mana kita menjadi pusat perhatian.
  • Dua Fungsi Panggung: Panggung adalah tempat untuk bersinar (to shine) sekaligus tempat untuk bertumbuh (to grow), termasuk dari kegagalan.
  • Manajemen Energi: Tampil di panggung adalah proses pertukaran energi antara performer dan audiens. Kunci untuk menjaga energi adalah intention (niat atau “bara api”) yang kuat dan sikap rendah hati (humble).
  • Prinsip Body Over Mind: Postur dan kondisi fisik sangat memengaruhi pikiran. Menggerakkan tubuh dapat meningkatkan energi saat lemas, dan tersenyum terbukti secara ilmiah dapat mengurangi stres dan memberikan jeda untuk berpikir.
  • Struktur Presentasi “3C”: Kerangka kerja presentasi yang efektif terdiri dari Context, Content, dan Cover.
  • BEEF (Konten Inti): Akronim untuk kriteria konten yang baik: Brief (singkat), Easy (mudah dipahami), Essentials (fokus pada pesan pokok), dan Flow (alur yang menarik).
  • Power of Three: Menyajikan pesan inti dalam tiga poin utama. Didasari oleh kutipan: “If everything is important, nothing is important.”
  • 4 Sudut Pandang CTA (untuk Closing/Penutup) : Tujuan penutup bisa berupa: Approval (meminta persetujuan), Advice (meminta saran), Announce (menginformasikan tanpa butuh feedback), atau Action (mendorong audiens melakukan tindakan urgent).

Sesi diskusi ditutup dengan membahas buku Find Your Why, yang berfokus pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum yang sering muncul saat seseorang mencoba menemukan “Why” (alasan mendasar) mereka.

  • Sifat “Why” meliputi Tunggal dan Konsisten: “Why” seseorang hanya ada satu. Jika terasa berbeda di rumah, kantor, dan pertemanan, kemungkinan besar itu bukanlah “Why” yang sebenarnya, Tidak Berubah: “Why” tidak berubah seiring bertambahnya usia, yang berubah hanyalah bahasa atau cara kita mengekspresikannya, dan Positif dan Generatif: “Why” yang otentik hampir selalu bersifat positif, generatif, dan berorientasi melayani orang lain. Jika terasa “jahat”, kemungkinan itu adalah “How” (cara) atau “What” (apa) yang dipersepsikan negatif, bukan “Why”-nya.
  • “Why” vs. Kebahagiaan: “Why” terhubung dengan kebahagiaan jangka panjang, bukan kepuasan atau kebahagiaan sementara (seperti membeli barang baru). Melakukan hal kecil yang sejalan dengan “Why” bisa lebih membahagiakan daripada memiliki gaji besar tanpa “Why”.
  • “Why” Bukan Pembeda: “Why” Anda mungkin terdengar sama dengan orang lain, dan itu tidak masalah. Yang membuat Anda otentik dan berbeda adalah kombinasi “Why”, “How” (bagaimana Anda melakukannya), dan “What” (apa yang Anda hasilkan).
  • Menemukan “Why”: Prosesnya melibatkan penelusuran pengalaman masa lalu untuk menemukan pola emosional yang konsisten.

Itulah resume dari apa yang dibahas dalam Regular Meetup #24 Book at Cafe. Meskipun tidak banyak, namun tetap insightful dan mewarnai momen sendu karena hujan di Kota Malang. Dalam setiap diskusi, kita selalu berusaha untuk saling berbagi insight, agar mampu tumbuh secara positif bersama. Semoga apa yang dibahas setiap minggu dapat selalu memberi manfaat dan pencerahan bagi seluruh anggotanya.

Jika kamu tertarik untuk mengikuti Regular Meetup selanjutnya, kami selalu ada di setiap hari Senin sore di kafe yang berbeda-beda. Untuk informasi lebih lengkapnya, silahkan kunjungi WhatsApp group, Instagram, atau Threads kami ya. Kami tunggu kunjungannya di minggu mendatang!

  1. Annie Duke. 2022. Quit.
  2. David Epstein. 2019. David Epstein.
  3. Austin Kleon. 2014. Show Your Work.
  4. Ricky Setiawan. 2023. Showtime Book.
  5. Simon Sinek. 2017. Find Your Why.

Thanks to : Kelvin, Risna, Rizal, Danis, dan Mario, yang telah hadir dan meramaikan dalam Regular Meetup #24 ini.

Scroll to Top